Rabu, 09 Juli 2014
Selasa, 08 Juli 2014
10 berani sukses
By Unknown at 20.16
2 comments
1. Pikirkan apa yang berani Anda impikan.
2. Inginkan apa yang berani Anda pikirkan.
3. Putuskan apa yang berani Anda pikirkan.
4. Rencanakan apa yang berani Anda putuskan.
5. Lakukan apa yang berani Anda rencanakan.
6. Yakini apa yang berani Anda lakukan.
7. Perjuangkan apa yang berani Anda yakini.
8. Sukseskan apa yang berani anda perjuangkan.
9. Nikmati apa yang berani Anda sukseskan.
10. Syukuri kesuksesan Anda dan persembahkan kepada Allah.
(repost from P. Partono)
# Source: fb Kisah-kisah Inspiratif (1,91jt fans)
2. Inginkan apa yang berani Anda pikirkan.
3. Putuskan apa yang berani Anda pikirkan.
4. Rencanakan apa yang berani Anda putuskan.
5. Lakukan apa yang berani Anda rencanakan.
6. Yakini apa yang berani Anda lakukan.
7. Perjuangkan apa yang berani Anda yakini.
8. Sukseskan apa yang berani anda perjuangkan.
9. Nikmati apa yang berani Anda sukseskan.
10. Syukuri kesuksesan Anda dan persembahkan kepada Allah.
(repost from P. Partono)
# Source: fb Kisah-kisah Inspiratif (1,91jt fans)
Kamis, 26 Juni 2014
GANGGUAN KELANCARAN BERBICARA
By Unknown at 20.56
No comments
GANGGUAN KELANCARAN BERBICARA
“GAGAP”
PADA ANAK

Oleh
Muhammad Nazmi Halim
E1C 113 101
PROGRAM STUDI
BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
JURUSAN BAHASA
DAN SENI
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MATARM
2014
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada
junjungan alam Baginda Nabi besar
Muhammad SAW, karena atas berkat dakwahnya
kita dapat menikmati indah dan nikmatnya Islam. Karya tulis ilmiah yang
berjudul Upaya Meningkatkan Keterampilan
Berbicara dengan Menggunakan Metode Diskusi ini disusun sebagai salah satu
tugas mata kuliah Berbicara pada Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia.
Penulis
menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ilmiah ini sampai selesai, penulis
tidak lepas dari bimbingan serta dukungan moril maupun material. Oleh karena
itu, melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak
Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph.D, selaku Rektor Universitas Mataram.
2. Bapak
Drs. H. Wildan, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Mataram.
3. Ibu
Dra. St. Rohana Hariana Intiana, M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa
dan Seni.
4. Bapak
Drs. I Nyoman Sudika, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa,
Sastra Indonesia dan Daerah.
5. Bapak
Drs. H. Nasaruddin M. Ali, sebagai Dosen Pembina Mata Kuliah Berbicara yang
telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis dari awal hingga akhir
penyusunan karya tuis ilmiah mini ini.
6. Bapak
Moehammad Asyar, selaku Dosen
Penasehat Akademik.
7. Bapak
dan Ibu Dosen serta Tenaga Administrasi yang telah membantu dan tidak dapat
penulis sebutkan satu persatu.
8. Untuk
ibu dan bapak tercinta Rusmini dan Lukmanul Hakim, sebagai motivator terbesar
dalam hidupku yang tak pernah jemu mendoakan dan menyayangiku, atas semua
pengorbanan dan kesabarannya mengantarkanku samapai kini. Tak pernah cukup ku
membalas cinta dan kasih sayang ibu dan bapak padaku.
9. Sahabatku
Karisma Aditya Pamungkas, Kusmayandi, Hijjul Wad’i, dan Kusmayadi. Terima kasih
atas motivasi dan kebersamaan kalian. Semoga kita semua dapat mencapai
cita-cita kita dan sukses. Amin.
10 .Teman setiaku yang
selalu meluangkan waktu untuk belajar bersama, bertukar pikiran, dan saling
memberikan motivasi. Terima kasih atas kebersamaanmu.
Penulis menyadari bahwa
dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan, untuk itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diperlukan untuk kesempurnaan
karya tulis ilmiah ini. Akhirnya, semoga karya tulis ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi diri saya pribadi khususnya dan kita semua pada umumnya.
Mataram, Juni
2014
Penulis.
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA
PENGANTAR----------------------------------------------- i
DAFTAR
ISI--------------------------------------------------------- iii
BAB
I PENDAHULUAN
Latar Belakang Permasalahan----------------------------------------- 1
1.1
Perumusan
Masalah-------------------------------------------- 2
1.2
Tujuan
Penelitian----------------------------------------------- 2
1.3
Manfaat
Penelitian--------------------------------------------- 2
BAB
II KAJIAN PUSTAKA-------------------------------------- 4
BAB
III PEMBAHASAN
3.1
Pengertian Gagap Bicara----------------------------------------- 6
3.2
Gejala Dan Karakteristik Gangguan
Kelancaran Berbicar ------ 8
3.3
Penyebab Gangguan Kelancaran
Berbicara --------------------- 10
3.4
Penanganan Anak Yang Mengalami
Gagap --------------------- 10
3.5
Tips Bicara Dengan Penderita Gagap --------------------------- 12
BAB
IV KESIMPULAN--------------------------------------------- 14
DAFTAR
PUSTAKA------------------------------------------------
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi utama
dalam kehidupan manusia, karena tanpa bahasa kehidupan sosial antar individu
yang membentuk kelompok masyarakat sulit untuk dibina. Karena dengan bahasa
manusia mampu berkomunikasi dan bekerjasama (Kridalaksana: 2005:4). Bahasa
dipelajari oleh tiap manusia secara berproses, yaitu sejak bayi antara usia 6-8
minggu anak mulai mendekut (cooing), merupakan bunyi-bunyi yang belum
bisa diidentifikasi karena hanya menyerupai bunyi vokal dan konsonan; kemudian
sekitar umur 6 bulan anak mulai mampu berceloteh (babbling) dengan
menuturkan bunyi yang berupa suku kata; lalu pada umur sekitar 1 tahun anak
mulai mampu menuturkan bunyi yang sudah bisa diidentifikasi sebagai kata
meskipun belum lengkap, misalnya untuk kata ikan hanya akan dilafalkan
dengan kan; perkembangan selanjutnya, anak akan mulai berujar dengan
ujaran satu kata (one word utterance), menjelang umur dua tahun barulah
anak mulai mampu berujar dengan ujaran dua kata (two word utterance);
hingga pada sekitar umur 4-5 tahun anak akan mampu berkomunikasi dengan lancar.
Kemampuan berujar anak dengan patokan-patokan di atas bersifat relatif karena
perbedaan faktor biologi pada setiap manusia, namun urutan pemerolehan bahasa
pada anak itu sama: dari dekutan (cooing), ke celotehan (babbling), ke ujaran
satu kata (one word utterance), kemudian ke ujaran dua kata (two word
utterance), dan seterusnya (Dardjowidjojo, 2008:197-199 & Steinberg
dkk, 2001: 3-9).
Berdasarkan keterangan di atas, dapat dikatakan bahwa Bahasa merupakan salah satu
parameter dalam perkembangan anak. Kemampuan bicara dan bahasa melibatkan perkembangan
kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar anak. Kemampuan bahasa pada umumnya
dapat dibedakan atas kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan
ekspresif (berbicara). Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya sehingga
pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan kemampuan berbicara.
Kemahiran dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh faktor intrinsik yang berasal dari anak dan faktor ekstrinsik yang berasal dari lingkungan. Faktor intrinsik adalah kondisi pembawaan anak sejak lahir termasuk fisiologi dari
organ yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu, faktor ekstrinsik menjelma berupa stimulus yang ada di
sekeliling anak terutama perkataan yang didengar atau
ditujukan kepada si anak.
1.2 Rumusan Masalah
Gangguan bahasa dan berbicara adalah salah satu penyebab
gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah
suara, masalah kelancaran berbicara yang biasa disebut dengan gagap; afasia,
yaitu kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata-kata, biasanya akibat
gangguan pembuluh darah otak (stroke) dan juga luka-luka kepala karena
kecelakaan(Cahyono, 1994: 263-264); serta keterlambatan dalam berbicara atau
berbahasa.
1.3 Tujuan
Makalah ini akan membahas dan mendeskripsikan salah satu
gangguan kelancaran berbicara atau gagap yang terjadi pada anak dari penyebab
terjadinya, karakteristik atau gejala, serta penanganan pada anak yang
mengalaminya. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai gangguan kelancaran
atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Gejalanya adalah Terdapat
pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa
terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring.
1.4 MANFAAT
Gangguan
kelancaran berbicara menarik untuk dikaji karena gangguan kelancaran berbicara
dapat menghambat anak dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga dapat
berpengaruh pada kondisi psikologis anak yang dapat berakibat fatal dan membuat
anak terisolir dari lingkungan sosial dan pendidikannya. Dengan diketahuinya
salah satu gangguan berbicara tersebut, diharapkan orang tua atau kerabat
terdekat anak dapat mendeteksi sejak dini salah satu gangguan kelancaran
berbicara hingga dapat pula di atasi sedini mungkin.
BAB II
2.1 KAJIAN PUSTAKA
Bahasa
merupakan salah satu parameter dalam perkembangan anak. Kemampuan bicara dan
bahasa melibatkan perkembangan kognitif, sensorimotor, psikologis, emosi dan
lingkungan sekitar anak. Kemampuan bahasa pada umumnya dapat dibedakan atas
kemampuan reseptif (mendengar dan memahami) dan kemampuan ekspresif
(berbicara). Kemampuan bicara lebih dapat dinilai dari kemampuan lainnya
sehingga pembahasan mengenai kemampuan bahasa lebih sering dikaitkan dengan
kemampuan berbicara. Kemahiran dalam bahasa dan berbicara dipengaruhi oleh
faktor intrinsik (dari anak) dan faktor ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor
intrinsik yaitu kondisi pembawaan sejak lahir termasuk fisiologi dari organ
yang terlibat dalam kemampuan bahasa dan berbicara. Sementara itu faktor
ekstrinsik berupa stimulus yang ada di sekeliling anak terutama perkataan yang
didengar atau ditujukan kepada si anak.[1][1]
Gangguan bahasa
dan berbicara adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling
sering ditemukan pada anak. Keterlambatan bicara adalah keluhan utama yang
sering dicemaskan dan dikeluhkan orang tua kepada dokter.
Gangguan ini
semakin hari tampak semakin meningkat pesat. Dari penelitian didapatkan bahwa
gangguan bahasa dan berbicara terjadi 1% sampai 32% dari populasi normal dan
sebanyak 60% dari kasus yang ditemukan terjadi secara spontan pada anak berumur
dibawah 3 tahun. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka gangguan bahasa dan
bicara harus menjadi prioritas bagi dokter untuk dideteksi secara dini agar
penyebabnya dapat segera dicari, sehingga pengobatan dan pemulihannya dapat
diberikan sesegera mungkin karena akan sangat mempengaruhi perkembangan anak di
masa depan.
Gangguan dalam
perkembangan bahasa dan artikulasi, selain menyebabkan hambatan dalam bidang
akademik, akan menyebabkan pula hambatan dalam bidang hubungan sosial, yang
kemudian dapat menimbulkan berbagai macam tingkah laku, seperti membolos, minat
belajar kurang, dan berbagai macam tingkah laku antisosial. Tidak jarang
kepribadian anak ikut terpengaruh misalnya anak mulai merasa rendah diri,
menjadi peragu dan sering waswas menghadapi lingkungannya.
BAB III
PEMBAHASAN
GANGGUAN KELANCARAN BERBICARA
“GAGAP”
PADA ANAK
3.1
Pengertian Gagap Bicara
Gagap atau stuttering merupakan salah
satu bentuk kelainan bicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan
kata-kata. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui
kata itu, akan tetapi tidak dapat menghasilkannya (Cahyono,
1994: 262). Wujudnya secara umum, tiba-tiba anak kehilangan ide untuk
mengucapkan apa yang ingin dia ungkapkan sehingga suara yang keluar
terpatah-patah dan diulang-ulang seperti ”i-i-ibu....”, sampai tidak mampu
mengeluarkan bunyi suara sedikit pun untuk beberapa lama. Reaksi ini bersamaan
dengan kekejangan otot leher dan diafragma yang disebabkan oleh tidak
sempurnanya koordinasi otot-otot bicara. Bila ketegangan sudah berlaku, akan
meluncur serentetan kata-kata sampai ada kekejangan otot lagi.
Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap
merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari
dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa,
serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi
suara. Kalau dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu gangguan irama
kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa gagap
adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Mereka yang
mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang
hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal ditengah
kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada
satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan.
Kemampuan berkomunikasi seorang anak
dianggap terlambat apabila kemampuan berbicara dan penguasaan bahasa jauh di
bawah kemampuan anak-anak seusianya. Salah satu gangguan berbicara adalah
gagap. Bicara
gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang terputus dalam satu rangkaiannya.
Gangguan tersebut pada setiap anak berbeda bentuk kelainannya, dalam waktu
tertentu berlainan jenis gangguan gagap yang timbul.
Sebelum mengetahui gejala gagap lebih
lanjut, perlu diketahui bahwa terdapat tiga tipe gagap berdasarkan berat atau
ringannya gangguan, yaitu :
1. Gagap
Perkembangan
Gagap perkembangan biasa terjadi pada
anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi
gagap pada periode usia 2-4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi,
karena hanya sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini
biasanya muncul disebabkan karena kontrol emosi penderita yang masih relatif
rendah, serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai
dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya
disebabkan karena rasa kurang percaya diri dan kecemasan akibat perubahan
fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya. Jadi, gagap pada fase
perkembangan merupakan gagap yang masih dalam tahap biasa dan wajar-wajar saja.
2. Gagap
Sementara/Gagap Ringan
Anak-anak usia 6-8 tahun sering
mengalami gagap sementara, hal ini biasanya hanya berlangsung sebentar. Umumnya
disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya anak mulai memasuki lingkungan baru
yang lebih luas, seperti lingkungan sekolah dan pergaulan, sehingga anak
memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
3. Gagap Menetap
Gagap ini dapat terjadi pada anak usia
3-8 tahun. Biasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis
alat bicara dan akan terus berlangsung, sebagian kata yang akan dituturkan oleh
penderita gagap akan terasa lenyap, meskipun penutur mengetahui akan kata-kata
yang ingin dituturkannya, namun ia tidak mampu untuk menghasilkan kata-kata
tersebut dengan sempurna. Anak yang menderita gagap menetap, alternatif
penanganannya adalah dengan melakukan terapi wicara (speech therapy).
3.2
Gejala Dan Karakteristik Gangguan Kelancaran Berbicara (Gagap)
Gagap merupakan suatu gangguan bicara
dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan
pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak
disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Dalam komunikasi, gagap
merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan
ujaran.
Gagap atau tidaknya seorang anak sudah
bisa dideteksi sejak fase true speech (bicara benar) di usia 18 bulan.
Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 4 - 5 tahun, karena pada usia ini
seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya sudah bagus,
pembentukan kalimat, bahasa ekspresif, kelancaran bicaranya juga sudah bagus,
serta sosialisasi anak pun sudah lebih luas.
Kondisi gagap pada anak bervariasi dari
yang ringan sampai berat. Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak
mampu mengucapkan kata dengan huruf awal b, d, s, dan t,
juga sering kali diikuti oleh gerakan berulang pada bagian tubuh yang tak bisa
dia kendalikan. Namanya tics, yang terjadi pada wajah atau gerak-gerak
kecil pada bagian punggung yang berulang dan tak terkendali. Gerakan ini
merupakan representasi perjuangan dari dalam dirinya (internal) yang berat
untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap
ini dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-siatuasi tertentu seperti harus
berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada
dirinya.
Sementara pada gagap yang ringan, anak
dalam keadaan tertentu dapat bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik,
menyanyi, dan di antara orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau
usianya dibanding dirinya. Namun, gagap akan dialami jika ia merasa malu,
rendah diri atau terlampau menyadari kondisi dirinya.
Gagap tidak akan berlanjut sampai
dewasa bila anak diterapi dengan baik dan segera. Selain itu juga dibutuhkan
dukungan dari lingkungan keluarga dan sekitarnya. Namun jika penyebabnya adalah
herediter (keturunan), ada kemungkinan agak sulit untuk disembuhkan.
Begitu juga, meski jika tingkat keparahannya ringan namun tidak ditangani
dengan baik. Langkah yang dapat dilakukan adalah hendaknya anak Segera
dikonsultasikan pada ahlinya, yaitu untuk masalah kecemasannya bisa
dikonsultasikan ke psikolog, sedangkan masalah wicaranya ke terapis wicara, dan
masalah performance/kinerjanya ke terapis okupasi.
Menurut Dr. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department
of Speech and Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat,
tanda-tanda anak yang mengalami gagap adalah sebagai berikut :
1. Anak terlihat mengulang-ulang bunyi lebih dari dua
kali, seperti i-i-i-ini.
2. Anak tampak tegang dan berjuang untuk
bicara, hal ini dapat
dilihat
dari otot-otot wajah anak, terutama di sekitar mulut.
3. Nada suara yang tidak
stabil, mungkin
naik seiring pengulangan.
4. Terkadang pula suara anak terdengar seperti tercekat, udara atau suara
tertahan selama beberapa detik.
5. Jika telah diamati dan
ternyata anak
mengalami kegagapan dalam 10% lebih pada pembicaraannya, maka kegagapan yang
dialaminya
dianggap cukup parah.
3.3
Penyebab Gangguan Kelancaran Berbicara
(Gagap)
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari
keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik, seperti gangguan pada syaraf
bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah. Sedangkan
faktor psikologis
yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, di antaranya
adalah stress
mental karena sesuatu yang dirasakan, namun tidak mampu untuk dilakukan.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh
faktor psikologis dibanding fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan
kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai
dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga
membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap
ketika menangis bisa menjadi kebiasaan sampai ia dewasa.
3.4
Penanganan Anak Yang Mengalami Gagap
Dari hasil berbagai penelitian yang pernah dilakukan oleh
para ahli,
mengungkap fenomena, bahwa gagap lebih sering terjadi pada
laki-laki dibanding pada perempuan. Sementara pada perempuan kecenderungannya adalah menderita
latah.
Menurut Drs Suripto SSpTh, terapis
wicara RS Dr Oen Surakarta, beberapa hal yang perlu diwaspadai terkait dengan
gagap adalah apabila orangtua melihat anaknya gagap yang disertai dengan
kesulitan mengucapkannya secara fisik. Sebagai contoh, anak memperlihatkan
kesulitan mengoordinasikan alat-alat bunyi (mulut atau lidah) sehingga tampak
seperti tidak wajar, atau sering memukul anggota tubuhnya agar keluar kata-kata
sebagaimana yang tadi telah disinggung di atas. Jika hal ini terjadi sebaiknya
orangtua segera memeriksa anaknya ke terapis wicara. Pendekatan yang banyak
digunakan oleh terapis wicara untuk menangani anak kecil yang gagap adalah
program pelancaran bicara (fluency-shaping program). Dalam program ini, fokusnya adalah
meningkatkan pengeluaran kata-kata yang lancar pada anak. Program
tersebut dilakukan dengan tujuan agar anak berbicara satu suku kata atau kata dengan lambat dan
rileks. Jumlah kata-kata ini kemudian pelan-pelan ditingkatkan sampai anak bisa
bicara satu kalimat. Proses ini akan bermula dari beberapa minggu hingga
beberapa bulan atau lebih. Metode ini akan efektif jika orangtua bisa mengikuti
sesi terapi sehingga mereka bisa belajar menggunakan pendekatan yang sama di
rumah
(http://harianjoglosemar.com)
Selain langkah di atas, ada beberapa
langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua yang dikutip dari sebuah artikel “Tips
Mengatasi Gagap Pada Anak” yang menyatakan saran mengenai sikap yang
dianjurkan atau tidak dianjurkan bagi orang tua dalam menghadapi anak yang
menderita gagap, dengan tujuan agar tercipta suasana ‘nyaman’ yang dianggap
akan membantu anak,
yaitu:
1. Orang tua
hendaknya tidak memerintahkan anak untuk selalu berbicara dengan tata bahasa yang benar.
Biarkan anak untuk berbicara dengan nyaman dan menyenangkan.
2. Manfaatkan waktu makan bersama untuk
melatih kelancaran berbicara anak. Hindari hal-hal lain yang mungkin mengganggu
seperti televisi atau radio dan ciptakan suasana yang tenang di rumah
3. Hendaknya tidak selalu mengkritik anak dengan
ucapan seperti pelan-pelan saja atau semacamnya. Komentar semacam ini, walaupun
diucapkan dengan niat baik, hanya akan membuat anak merasa semakin tertekan.
4. Jangan selalu menyuruh anak untuk
berhati-hati dalam berbicara, biarkan anak berbicara dan mengucapkan kalimatnya sampai
selesai, dan ijinkan anak untuk berhenti
berbicara jika ia merasa tidak nyaman.
5. Jangan menyuruh anak untuk
mengulangi kata-katanya.
6. Berbicaralah dengan pelan dan jelas
kepada anak. Tataplah mata anak jika berbicara dengannya. Jangan melihat
kearah lain dan hal yang tidak kalah penting adalah hendaknya orang tua
tidak
menunjukkan kekecewaan didepan anak.
7. Yang paling penting adalah:
seringlah berlatih! Jadilah contoh yang baik bagi anak dengan selalu berbicara
dengan jelas.
3.5
Tips Bicara Dengan Penderita Gagap
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai
tips berbicara dengan anak penderita gagap, tema ini begitu penting karena anak
yang mengalami kekurangan pada fisik, yang dalam hal ini terletak pada organ
bicara, secara psikologis kerap mengalami rasa kurang percaya diri dan
cenderung sensitif. dengan demikian, cara berbicara dengan anak yang mengalami
gagap juga harus diperhatikan, demi terciptanya kepercayaan diri pada anak dan
tidak menutup kemungkinan untuk mengurangi penyakit gagap yang diderita oleh
anak.
Berikut adalah apa yang hendaknya
dilakukan oleh orang tua, kerabat, orang-orang terdekat, juga para pendidik
anak (jika berada di sekolah) yang mengalami gagap.
1. Lihat dan
dengarkan dengan cermat dan hati-hati, konsentrasilah saat anak mengatakan
sesuatu daripada mempermaslahkan bagaimana dia berbicara.
2. Turunkan
kecepatan bicara anda dan pastikan bahwa bahasa yang anda gunakan dimengerti
olehnya, penekanan artikulasi diperingan.
3. Tetaplah
perlahan ketika anda bicara.
4. Cobalah
mempunyai waktu yang rutin selama sekolah atau di rumah, untuk mendiskusikan
masa depan yang harus disiapkan anak anda
5. Bicalah tentang
kecepatan bicara anak anda, jika memang dia ingin membahasnya.
6. Hindari penekanan bahwa
ketidaklancaran bahasa adalah sesuatu yang salah dan memalukan.
7. Dengarkan dengan penuh perhatian,
doronglah dalam susasan tidak meneganggkan sebisa mungkin di mana saja.
8. Tanyakan petunjuk yang benar pada
terapis bicara dan bahasa.
9. Tunggu dengan sabar hingga anak
menyelesaikan bicara, terus jaga kontak mata.
10. Bicaralah tentang gangguan ini
secara terbuka tanpa harus mengganggua perasaannya, masalah ini bukanlah tabu
untuk didiskusikan dengan anak. Anggota keluarga lainnya harus ikut mendukung
dalam penanganan gangguan ini.
11. Jangan takut untuk mengatakan, bahwa
anda tidak mengerti apa yang diucapkannya, suruh anak mengulang bicaranya
dengan pelan dan relaks.
Jika poin-poin di atas merupakan saran
yang hendaknya dilakukan, berikut adalah apa yang hendaknya tidak dilakukan
oleh orang tua, kerabat, orang-orang terdekat, juga para pendidik (jika berada
di sekolah) pada anak yang mengalami gagap:
1. Tidak
mengurangi bahkan menarik perhatian pada anak kita yang gagap.
2. Tidak membantu menyelesaikan kalimatnya, atau melengkapi kata atau huruf yang
tertinggal saat dia bicara.
3. Tidak meniru mimik mereka.
4. Tidak Menyela atau menghentikan
pembicaraannya.
5. Tidak menuntut mereka berbicara saat
mereka tak ingin berbicara.
6. Tidak mengatakan kepada mereka untuk mulai
mengulangi lagi kalimatnya.
7. Saat mereka bicara, jangan memberi nasehat: bicara dipelankan, relaks atau
ambil napas dalam.
8. Tidak menghukum mereka ketika bicara
salah.
9. Hindari kehilangan kontak mata karena akan
menunjukkan kejenuhan dan ketidaksabaran (this can be a sign of boredom or
impatience).
BAB IV
KESIMPULAN
Gagap merupakan salah satu gangguan
berbicara selain afasia ataupun keterlambatan anak dalam berbicara. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai
gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara.
Gejalanya adalah Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu
bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti
lidah, bibir, dan laring.
Gangguan kelancaran berbicara ini tidak
akan berlanjut sampai dewasa jika anak diterapi dengan baik dan segera, dan
diberi dukungan dan motivasi dari lingkungan keluarga dan sekitarnya. kecuali
jika penyebabnya adalah herediter (keturunan), ada kemungkinan agak
sulit untuk dihilangkan. Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun
psikologis. Dan gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding
fisiologis, seperti trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil
bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa.
Mengenai penanganannya adalah dengan
membawa anak penderita gagap ke ahli terapis wicara dengan mengikuti program
pelancaran bicara (fluency-shaping program) dan
memperlakukan anak tersebut dengan memperlakukan anak penderita gagap dengan
sebaik-baiknya sebagimana yang telah dianjurkan di atas.
DAFTAR
PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Dardjowidjojo, Soenjono. 2008. Psikolinguistik
Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal
– Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.
Steinberg, Danny D. Dkk. 2001. Psycholinguistics:
Language, Mind, and World. England: Longman.
Effendi, Irwan dan Rahmi Lestari
(ed.). 2008. Gangguan Bicara Dan Bahasa Pada Anak (ebook Pdf).http://www.dokteranakku.com/wp-content/downloads/Buku%20gangguan%20
bicara%20dan%20bahasa.pdf. Diposting Pada Agustus 2008. Diakses pada 15
Juni 2014. Pukul 13.55 WITA.
Judarwanto, Widodo. Bicara Gagap
(Stammering/Stutering) Pada Anak. http://speechclinic.wordpress.com/2009/04/25/bicara-gagap-stammeringstutering-pada-anak/.
Diposting Pada 25 April 2009, Diakses pada 16 Juni 2014. Pukul 06.51 WITA.
Tim Redaksi Klik Dokter dalam Rubrik Konsultasi Anak. http://anak.klikdokter.com/tanyajawab.php?id=3397. Diakses pada
17 Juni 2010. Pukul 07.15 WITA.
Anonim. Studi Kasus Anak Gagap (Pdf). http://www.docstoc.com/docs/DownloadDoc.aspx?doc_id=15845542. Diakses
pada 3 Juni 2014. Pukul 07.10 WITA.
Anonim. Atasi Gagap dengan Program Pelancaran
Bicara.
Anonim. Definisi Gangguan Bicara Dan Bahasa. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/05/definisi-gangguan-bicara-dan-bahasa/. Diposting
pada 30 Mei 2010. Diakses pada 03 Juni 2014. Pukul 07.01 WITA.
